Minggu, 20 November 2011

askep fraktur


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kecelakaan dijalan raya merupakan masalah kesehatan yang sangat sering terjadi diseluruh dunia, sekitar 14.000 orang mengalami kecelakaan dijalan setiap harinya. Lebih dari 3000 orang meninggal dunia akibat kecelakaan dan sekitar 15.000 orang mengalami kecelakaan seumur hidup. Bila masalah ini tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan pada tahun 2020 nanti, jumlah korban yang meninggal atau mengalami kecacatan akan mencapai lebih dari 60 % penduduk diseluruh dunia, sehingga kecelakaan dijalan merupakan penyebab utama kesakitan dan kecacatan.
Dikawasan Asia Tenggara, pada tahun 2001 diperkirakan 354.000 orang meninggal dunia akibat kecelakaan dijalan dan kurang lebih 6,2 juta jiwa terpaksa dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan sehingga memerlukan dana sebanyak 14 milyar dolar Amerika.
Menurut data kepolisian RI Pada tahun 2003 jumlah kecelakaan kematian mencapai 13.399 kejadian dengan jumlah kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.649 dengan luka ringan. Dengan data itu rata-rata setiap harinya terjadi 40 kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia. Sebagian besar kecelakaan dialami laki-laki kelompok usia produktif yakni antara 15-40 tahun. (www.depkes.go.id .2004)

eh karena itu untuk mengurangi hal tersebut peran perawat sangat diperlukan untuk mencegah dan memperkecil dampak yang disebabkan oleh kecelakaan dijalan raya dengan cara memberikan asuhan keperawatan yang efesien. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam dan ingin membantu memecahkan masalah kesehatan pada klien dengan fraktur. Dengan ,melibatkan klien dengan inisial Ny. N dan keluarga serta bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur klavikula di ruang rawat inap pavilion sekatung RSAL Dr. Midiyato. S. Tanjungpinang.



B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan menerapkan Asuhan Keperawatan pada pada klien Fraktur femur di Instalasi Rawat Inap pavilion sekatungRumah Sakit Angkatan Laut Dr.Midiyato. S. Tanjungpinang.

2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan Asuhan Keperawatan pada Tn S Dengan fraktur klavikuladi Instalasi Rawat Inap pavilion sekatungRumah Sakit Angkatan Laut Dr.Midiyato. S. Tanjungpinang, kemudian menganalisa data dan menentukan diagnosa keperawatan serta menetapkan prioritas masalah yang utama.
b. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien sesuai dengan prioritas masalah.
c. Mampu menerapkan rencana tindakan keperawatan yang nyata sesuai dengan masalah yang diprioritaskan.
d. Mampu mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada klien dengan fraktur 1/3 femur dekstra.
e. Mampu mendokumentasikan tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada klien fraktur 1/3 femur dekstra.
f. Mendapat gambaran tentang kesenjangan antara teori dengan pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada Ny. N Dengan 1/3 Fraktur Dekstra di Instalasi Rawat Inap Ruang Bedah Wanita Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.Midiyato. S. Tanjungpinang.

C. Metode Penulisan
Didalam pembuatan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada salah satu klien dengan fraktur 1/3 femur dekstra.
1. Teknik Pengumpulan Data.
a. Teknik Wawancara
Salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terhadap klien, keluarga, perawat dan status perkembangan lainnya. Tujuan wawancara ini untuk memperoleh data yang diperlukan seperti identifikasi klien, kebiasaan sehari-hari, data tentang kesehatan keluarga aspek psikososial dan informasi lainnya.
b. Teknik Observasi
Teknik observasi yang ditujukan langsung pada klien dan keluarga tingkah laku dan respon dari klien dan keluarga.
c. Pemeriksaan Fisik
Teknik pemeriksaan fisik yang ditujukan langsung pada klien yang menderita sakit dengan menggunakan 4 (empat) teknik yaitu teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
d. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Lainnya
Tujuan pemeriksaan laboratoriun dan diagnostik adalah untuk mendukung penemuan data dari hasil wawancara dan observasi serta untuk mengetahui gangguan yang tidak dapat diperoleh dari wawancara dan observasi.
e. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi yaitu mendapatkan data dengan cara pengumpulan data informasi dari catatan medik, catatan perkembangan klien, catatan perawat dan catatan lainnya yang ada di RSAL Dr.Midiyato S Tanjungpinang.

2. Sumber Data
a. Data Primer
Diperoleh langsung dari klien berupa data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah informasi yang disampaikan langsung oleh klien kepada perawat selama pengkajian dan data objektif adalah semua informasi yang dapat diobservasi dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
b. Data Sekunder
Diperoleh dari keluarga, catatan perkembangan klien, catatan medikal record dan dari tim kesehatan lainnya.

3. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya data diolah secara manual yaitu dengan jalan mengklasifikasikan, menginterprestasikan, mendokumentasikan dan selanjutnya disajikan secara tekstular dengan menggunakan format Asuhan keperawatan.

C. Ruang Lingkup
Mengingat luasnya permasalahan dan adanya keterbatasan kemampuan maupun waktu pada diri penulis, maka penulis membatasi masalah yaitu ‘’Bagaimana melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn S Dengan Fraktur Clavikula di Instalasi Rawat Inap pavilion sekatung Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.Midiyato. S. Tanjungpinang”.

D. Sistematika Penulisan
1. Terdiri dari sampul, halaman depan, lembar pengesahan, kata pengantar, halaman persembahan, daftar isi, daftar table, daftar gambar,daftar format serta daftar lampiran.
2. Bagian isi terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V yaitu :
BAB I : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, Perumusan masalah, tujuan penulisan, metodelogi dan Sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Teoritis, yang memuat tentang konsep dasar penyakit yang meliputi : definisi, anatomi fisiologi, etiologi, pathofisiologi, klasifikasi, pemeriksaan diagnostik, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi dan konsep dasar keperawatan pada klien dengan fraktur klavikula yang meliputi pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB III : Tinjauan Kasus, terdiri dari pengkajian, analisa data, Diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV : Pembahasan, yang memuat tentang kesenjangan antara tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus.
BAB IV : Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontunuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk dan bahkan kontraksi otot eksterm. (Keperawatan Medikal Bedah vol. 3, Brunner dan suddarth ,2001).
Fraktur adalah Patah tulang ,biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.. (Fatofisiologi dan penyakit-penyakit klinis Volume II, 2002)

Klasifikasi Fraktur
a. Fraktur yang diklasifikasi berdasarkan pada patahnya integritas kulit, lokasi, bentuk patahan dan status kerusakan :
1) Closed fraktur (simple fraktur), yaitu fraktur yang tertutup karena integritas kulit masih utuh/tetap tidak berubah.
2) Open fraktur (compound fraktur), yaitu fraktur terbuka karena integritas kulit robek atau terbuka dan yang ujung tulang menonjol sampai menembus kuilt.
3) Complete fraktur yaitu fraktur komplit yaitu retak atau patah tulang yang luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
4) Retak tak komplit, yaitu fraktur yang hanya sebagian dari tulang yang retak.


Fraktur Berdasarkan Tipe-Tipe Fraktur
a. Fraktur oblique adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang fraktur yang memiliki arah miring. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
b. Fraktur spiral adalah fraktur yang timbul akibat rorsi pada ekstermitas. Fraktur ini fraktur meluas yang mengelilingi tulang. Fraktur ini juga hanya sedikit menimbulkan kerusakan jaringan lunak. Fraktur semacam ini cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar.
c. Fraktur transverse adalah fraktur luas yang melintang dari tulang, fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi atau direduksi kembali ketempatnya semula, maka segmen-segmen itu akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai.
d. Fraktur segmental adalah fraktur yang segmen tulangnya ada yang retak dan ada yang terlepas yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darah.
e. Fraktur comminuted adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat lebih dari dua fragmen tulang.

Fraktur Yang Diklasifikasikan Secara Klinis
a. Fraktur dahan patah (Green Stick Fracture) adalah fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Tulang patah dibawah lapisan periosteum yang elastis dan tebal (lapisan periosteum itu sendiri tidak rusak). Konteks tulangnya sebagian masih utuh, demikian juga periosteum. Fraktur-fraktur ini segera sembuh dan segera mengalami remodelling bentuk dan fungsi normal.
b. Fissura fraktur adalah patah tulang yang tidak disertai perubahan letak yang berarti.
c. Fraktur yang lengkap (complete fraktur) adalah patah tulang yang disertai dengan terpisahnya bagian-bagian tulang.
d. Fraktur tekan (stress fraktur) adalah kerusakan tulang karena kelemahan yang terjadi sesudah berulang-ulang ada tekanan berlebihan yang tidak lazim.
e. Impacted fracture adalah fraktur kompresi yang terjadi ketika fragmen tulang terdorong masuk kearah dalam tulang satu sama lain, sehingga tidak dapat terjadi gerakan diantara fragmen-fragmen itu. Fraktur kompresi dapat disertai pendarahan retroperitonial yang cukup berat seperti fraktur pelvis, penderita dapat secara tepat menjadi syok hipovolemik.
f. Fraktur patologik adalah fraktur patologik terjadi di daerah–daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya tulang sering menunjukan penurunan desitas. Penyebab yang paling sering dari fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor baik primer atau tumor metastasis.
g. Fraktur beban lainnya, yaitu terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah aktivitas seperti mereka yang baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata.
h. Fraktur depresi, yaitu fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).
i. Fraktur avulsi adalah tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlengketan.

2. Anatomi Fisiologi
Ada 206 buah tulang dalam tubuh manusia yang dibagi dalam 4 kategori yaitu : tulang panjang, pendek, pipih dan tidak teratur. Bentuk dan konstruksinya ditentukan oleh fungsi dan gaya tulang yang bekerja pada tulangnya.
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan defosit mineral, sel-selnya terdiri atas 3 yaitu osteoblast yang berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresi dasar (glikosaminogalikan dan proteoglikan) matrik merupakan kerangka dalam garam mineral noranorganik. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matrik tulang). Osteoklast adalah sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resopsi dan remodeling tulang.
Tulang diselimuti pada bagian luar oleh membran fibrus padat yang dinamakan perisoteum yang memberi nutrisi ketulang dan memungkinkannya tumbuh, pembuluh darah dan limgfatik. Ondosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sum-sum tulang arteria nutrisia (Arteri Tunggal)
Perkembangan tulang dimulai sebelum kelahiran. Osifikasi adalah proses dimana matriks tulang terbentuk dan pengerasan mineral ditimbun diserabut kologen dalam suatu lingkungan olektronegatif, yang memberi kekuatan terhadap tekanan pada tulang. Ada dua model dasar osifikasi yaitu intramembran dan endokondral. Penulangan intramembran dimana tulang tumbuh didalam membran, sedangkan endokardinal yaitu tulang terbentuk yang lebih dahulu model tulang rawan yang serupa seperti tulang rawan kemudian mengalami dan diganti oleh tulang.
Pemeliharaan tulang, dimana tulang merupakan jarignan yang dinamis dalam keadaan peralihan yang konstan. Faktor pengatur penting yang menentukan keseimbangan antara pembentukan dan resorbsi tulang antara lain stress tulang. Vitamin yang berfungsi meningkatkan jumlah calsium dalam darah dengan meningkatkan penimbunan calsium dalam tulang. Pasokan darah juga mempengaruhi pembentukan tulang bila terjadi penurunan pasokan darah maka terjadi penurunan dan tulang mengalami osteoporosis / nekrosis.
Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang, yakni :
a. Inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan pembentukan hematon. Pada tempat tulang yang patah yang kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar)
b. Proliferasi sel
Dalam waktu sekitar lima hari, hematon akan mengalami organisme, terbentuk barang-barang fibirin yang akan membentuk jaringan untuk revaskularasi dan invasi fibroglast dan osteoblast yang akan menghasilkan kologen dan proteoglikan sebaga matrik kologen pada patahan tulang. Dari peristeum tampak pertumbuhan melingkar yang dirangsang oleh gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus sedangkan tulang yang tumbuh akan menunjukkan potensial elektronegatif.
c. Pembentukan kalus
Pembentukan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dalam jaringan fibrus. Tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung ber hubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang sehingga memerlukan waktu kurang lebih 3-4 minggu agar fragmen tulang bergabung dalam tulang rawan.
d. Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu melalui proses penulangan endokondral. Mineral tersu-menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu dan keras.
e. Remodeling
Tahap akhir perbaikan patahan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisme tulang baru kesusunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan.

3. Etiologi

Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh :
- Pukulan langsung
- Gaya remuk
- Gerakan puntir mendadak
- Kontraksi otot ekstrim
- Tulang yang sakit atau osteoporosis

4. Patofisiologi
Faktur terjadi biasanya ketika tekanan yang kuat mengenai tulang dan jaringan lunak darinya cepat menyerap, seperti dari suatu pukulan langsung atau suatu tekanan pukulan langsung suatu kekuatan meremukkan. Selain pukulan tersebut menimbulkan fraktur berupa tekanan tidak langsung, misalnya adanya gesekan atau kontraksi otot yang hebat.
Apabila tulang mengalami fraktur, maka proteum, pembuluh darah terputus dan jaringan disekitarnya rusak. Perdarahan biasanya terjadi trauma terhadap jaringan dan terputusnya pembuluh darah. Respon perdarahan lokal akibat kerusakan jaringan sekitar tulang akibat trauma.
Kerusakan jaringan berawal dari kematian sel. Bila sebuah sel mati, maka disebut nekrosis. Nekrosis jaringan ini merangsang kecenderungan untuk terjadinya peradangan akut yang ditandai dengan vasodilatsi kapiler, pengeluaran plasma dan leukosit serta infiltrasi dari sel-sel darah putih lainnya. .

5. Manifestasi Klinis
a. Nyeri, terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirangsang untuk meminimalkan gerakan antara fragmen tulang.
b. Deformitas yaitu pergeseran fragmen pada fraktur misalnya fraktur lengan atau tungkai. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
c. Pemendektak tulang atau (shortening) 2,5 – 5 cm (1-2 inci)
d. Krepitasi teraba adanya derik tulang ketika tulang yang digerakan akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti faktur tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi luasnya fraktur/trauma.
b. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI : memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan dicurigai.
d. Hitung darah lengkap : Hemokonsentrasi mungkin meningkat atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma.
e. Kreatinin : trauma otot meningkat beban kretinin untuk klien ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel atau cedera hati.

7. Penatalaksanaan
a. Rekognisi
Riwayat kecelakaan derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskriptif tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri menentukan apakah ada kemungkinan fraktur dan apakah perlu dilakukan pemeriksaan spesifik untuk mencari adanya fraktur. Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dipakai sebagai petunjuk kemungkinan adanya faktur dan dibutuhkan pemasangan bidai segera atau pemeriksaan lebih lanjut.
b. Reduksi.
Reduksi adalah usaha dan tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti asalnya.
c. Retensi.
Bila kedua sendi yang mengalami fraktur posisinya membentuk sudut dengan sumbu longitudinal tulang yang patah dan sekaligus mencegah perubahan letak rotasional, retensi dimaksudkan untuk mempertahankan fragmen tulang selama masa penyembuhan.
d. Rehabilitasi.
Rencana rehabilitasi harus segera dimulai dan dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur.

8. Komplikasi
a. Sindrom emboli lemak
Sindrom emboli lemak merupakan keadaan pulmonal akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sum-sum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak.
Pencegahan dan penatalaksanaan yaitu imobilisasi segera fraktur, manipulasi fraktur minimal, dan penyangga fraktur yang memadai saat pemindahan dan pengubahan posisi merupakan upaya yang dapat mengurangi insidensi emboli lemak.
Tujuannya adalah menyokong sistem pernafasan dan mengoreksi gangguan homeostasis. Emboli lemak merupakan penyebab utama kematian pada pasien fraktur.
b. Sindrom kompartemen
Sindroma kompartemen merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Hal ini disebabkan karena terjadi penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu kuat. Peningkatan ini karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah iskemia. Kehilangan fungsi lainnya bila keadaan ini berlansung lebih dari 6-8 jam. Pasien mengeluh adanya nyeri dalam, berdenyut yang tak tertahankan, palpasi pada otot akan terasa pembengkakan dan keras, parastesia akan timbul sebelum terjadinya paralisis.
Pencegahan dan penatalaksanaan yaitu dicegah dengan mengontrol edema, yang dapat dicapai dengan meninggikan ekstremitas yang cedera setinggi jantung dan memberikan kompres es setelah cedera sesuai resep. Bila telah terjadi sindrom kompartemen, balutan yang ketat harus dilonggarkan. Fasiotomi (Eksisi bedah membran fibrosa yang menutupi dan membagi otot) mungkin diperlukan bila upaya konservatif tidak dapat mengembalikan perfusi jaringan dan mengurangi nyeri dalam 1 jam. Setelah fisiotomi, luka tidak dijahit dan dibalut dengan balutan steril yang dilembabkan dengan larutan salin. Kemudian dibidai dengan posisi fungsional dan latihan rentang gerak pasif tiap 4 sampai 6 jam. Dalam 3 sampai 5 hari, edema menghilang dan perfusi jaringan kembali, luka didebridemen dan ditutup.
c. Syok, terjadi perdarahan hebat
d. Malunion
Adalalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya dan membentuk sudut (miring)
e. Delayed union dan nonunion
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Sedangkang nonunion adalah tulang yang patah tetap tidak menyatu akibat reduksi yang tidak benar, imobilisasi yang kurang tepat baik dengan cara terbuka maupun tertutup, inpeksi dan suplai darah yang kurang.

B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.
a. Identitas klien
Nama, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status, agama, alamat, hubungan klien dengan penanggung jawab.

b. Riwayat kesehatan lalu.
Klien atau keluarga perlu ditanya apakah sebelumnya pernah mengalami fraktur atau penyakit lainnya.
c. Riwayat kesehatan sekarang.
Masalah kesehatan yang dialami klien saat ini menjadi data fokus yang perlu dikumpulkan. Data yang perlu dikaji :
1) Waktu kejadian.
2) Faktor-faktor yang memperburuk masalah.
3) Keadaan masalah.
4) Manifestasi klinis.
Keluhan utama yang paling biasa dikeluhkan oleh klien yang mengalami gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri, deformitas, kelainan fungsi nyeri yang dirasakan oleh klien biasanya bersifat akut maupun kronis tergantung pada onset dan durasinya.
d. Pemeriksaan fisik.
Untuk pemeriksaan sistem muskuloskeletal, perawat melakukan inspeksi, palpasi dan pengukuran ROM dan teknik-teknik khusus untuk masalah yang spesifik. Langkah-langkah pemeriksaan sebagi berikut :
Mengobservasi postur tubuh klien, apakah adanya deformitas, lardosis, kiposis dan skoliosis, cara berdiri pasien. Posisi berdiri pasien yang normal adalah tegak lurus dengan panggul dan bahu berada dalam satu keselarasan. Observasi tanda-tanda vital seperti : Tekanan darah, nadi, temperatur dan pernafasan.
Pada saat melakukan uji rentang gerak sendi, lakukan pemeriksaan baik secara inspeksi maupun palpasi :
1) Pembengkakan.
2) Deformitas.
3) Kondisi jaringan sekitar.
4) Kekakuan.
5) Ketidakstabilan dalam sendi.
6) Adanya nyeri.
7) Krepitasi.
Pada saat pemeriksaan tentang gerak sendi secara fisik klien harus dalam keadaan rileks untuk memungkinkan gerak sendi sampai akhir gerak sendi terasa.

2. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yng menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah.

Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan fraktur adalah :
a. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edeme dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/mobilisasi, stress, ansietas.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskular, nyeri/ketidaknyamanan, terapi restiktif (imobilisasi tungkai).
c. Kerusakan jaringan/integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, bedah, perbaikan, pemasangan traksi/pen, kawat skrup, perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi eksresi/sekret, immobilisasi fisik.
d. Resiko terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan integritas tulang (fraktur).
e. Resiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan trambus, hipovolemia.
f. Resiko terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar/kapiler, intestinal, edema paru kongesti.
g. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan.
h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat ; salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Nyeri (akut) b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/immobilisasi, stress dan ansietas kemungkinan dibuktikan oleh :
a. Keluhan nyeri
b. Distraksi : fokus pada diri sendiri/fokus menyempit : wajah menunjukkkan nyeri.
c. Perilaku berhati-hati, melindungi perubahan tonus otot, respon otot dinamik.

Tujuan :
Setelah diberi tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri berkurang secara bertahap.
KH :
a. Menyatakan nyeri hilang.
b. Menunjukan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas/tidur/istirahat dengan cepat.
c. Menunjukan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai dengan indikasi untuk situasi individual.
1. Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
2. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
3. Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan pertahankan lokasi dan karakteristik termasuk intesitas (skala 0-10) perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda-tanda vital dan emosi/perilakunya).
4. Lakukan dan awasi latihan tentang gerak pasif/aktif.
5. Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi.
6. Dorong menggunakan teknik mamajemen stress contoh relaksasi progresif, latihan nafas dalam, imajinasi fisualisasi, sentuhan terapeutik.
7. Identifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk usia pasien, kemampuan fisik dan penampilan pribadi.
8. Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba atau dalam lokasi progresif /buruk tidak hilang dengan analgesik.
9. Lakukan kompres dingin/ es 24 – 28 jam pertama dan sesuai keperluan.
10. Kolaborasi :
a. Berikan obat sesuai dengan indikasi : narkotik dan analgesik non narkotik, berikan/awasi analgesik yang dikontrol pasien (ADP).
1. Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/ketegangan jaringan yang cedera.
2. Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri.
3. Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.


4. Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
5. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot.
6. Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
7. Mencegah kebosanan menurunkan tegangan dan dapat meningkatkan kekuatan otot, dapat menigkatkan harga diri dan kemampuan koping.
8. Dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh : infeksi, iskemia, jaringan, sindrom kompartemen.

9. Menurunkan edema pembentukan hematoma menurunkan sensasi nyeri
10.
Diberikan untuk menurunkan nyeri dan atau spasme otot, pemberian rutin analgesik yang dikontrol pasien mempertahankan kadar analgesik darah adekuat dalam penghilangan nyeri sehubungan dengan tegangan otot/spasme.

2. Kerusakan mobilitasi fk b/d kerusakan neuromuskular nyeri/ketidaknyamanan terapi reskriftif (immobilitas Tungkai).
Kemungkinan dibuktikan oleh :
a. Ketidak mampuan bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik dilakukan pembatasan.
b. Menolak untuk bergerak keterbatasan sesuai tujuan dalam lingkungan fisik dilakukan pembatasan.
c. Penurunan kekuatan/kontrol otot.

Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan mobilitas fisik kembali normal secara bertahap.
KH :
a. Meningkatkan/mempertahankan
mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
b. Mempertahankan posisi fungsional.
c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh .
d. Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktifitas.

1. Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatian persepsi pasien terhadap mobilisasi.
2. Dorongan partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi. Pertahankan rangsangan lingkungan, contoh : radio, tv, kunjungan keluarga/teman.
3. Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.
4. Tempatkan dalam posisi terlentang secara periodik bila memungkinkan, bila traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur tungkai bawah.
5. Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan contoh : mandi.
6. Berikan/bantuan dalam mobilisasi dengan kursi roda, tongkat sesegera mungkin, instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
7. Awasi tekanan darah dalam menggunakan aktivitas.
8. Kolaborasi :
a. Konsul dengan ahli terapi okupasi dan atau rehabilitasi spesialis.


1. Pasien mungkin dibatasi
oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
2. Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri/harga diri dan membantu menurunkan isolasi sosial.
3. Meningkatkan aliran darah keotot dan tulang untuk meningkatkan donus otot mempertahankan gerak sendiri, mencegah kontraktur/atrofi dan reabsorpsi kalsium karena tidak digunakan.
4. Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.
5. Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi.
6. Meningkatkan kesehatan diri langsung.
7. Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus.
8. Berguna dalam membuat aktivitas individual/program latihan. Pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan, kekuatan dan aktifitas yang mengandalkan berat badan, juga penggunaan alat, contoh : tongkat, meninggalkan tempat duduk ditoilet, tongkat penggambil/penggapai, khususnya alat makan.



Kerusakan jaringan/intregitas kulit b/d cedera tusuk, fraktur terbuka , bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, skrup. Perubahan sensasi sirkulasi, akumulasi eksresi/sekresi. Immobilitasasi fisik. Kemungkinan dibuktikan oleh :
a. keluhan gatal , nyeri, kebas, tekanan pada area yang sakit/area sekitar.
b. Gangguan permukaan kulit : Invasi struktur tubuh destruksi Lpisan kulit, jaringan.

Tujuan :
Setelah diberi tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan integritas kulit klien membaik secara bertahap.
KH :
a. Menyatakan ketidak nyamanan.
b. Menunjukan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/memudashkan penyembuhan sesuai indikasi.
c. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.


1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna, kelabu memutih.
2. Ubah posisi dengan sering. Dorong penggunaan trapaze bila memungkinkan.
3. Penggunaan gips dan perawatan kulit dengan sabun dan air bersihkan kulit, gosok perlahan dengan alkohol dan atau bedak dengan jumlah sedikit atau stearasting.
4. Traksi kulit dan perawatan kulit, gunakan plester traksi kulit (buat beberapa strif moleskin/plester pelekat). Memanjang pada posisi tungkai yang sakit.
5. Traksi tulang dan perawatan kulit tekuk ujung kawat/pen dengan kawat atau gabus pelindung/tutup jarum.
6. Kolaborasi :
a. Buat gips dengan katup tunggal , katup ganda atau jendela sesuai instruksi.
1. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat dan atau pemasangan gips/ bebat atau traksi atau pembentukan edema yang membutuhkan intervensi medik lanjut.
2. Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.Penggunaan trapaze dapat menurunkan abrasi pada siku atau tumit.
3. Memberikan gips tetap kering dan area bersih catatan : terlalu banyak bedak dapat membuat lengket bila kontak dengan air/kering.
4. Plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi sirkulasi.
5. Mencegah cedera pada tubuh lain.
6. Memungkinkan pengurangan tekanan dan memberikan akses untuk perawatan luka dan nyeri.



Resiko terhadap trauma (tambahan ) b/d kehilangan intregitas tulang (fraktur) Tujuan :
Setelah diberi tindakan 3 x 24 jam diharapkan truma (tambahan) tidak terjadi.
KH :
a. Memoertahankan stabilitas dan pasien fraktur.
b. Menunjukan mekanikah tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur Mandiri
1. Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai dengan indikasi. Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak/membalik gips/bebat.
2. Sokong frakltur dengan bantal guling selimut. Pertahankan netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.
3. Pertahankan posisi/integritas traksi, contoh : Buck, Dunto, pearson, Russel.
4. Pertahankan kontrol tidak terhambat dengan beban bebas menggantung, hindari mengangkat/menghilangkan berat.
5. Kolaborasi :
a. Kaji ulang foto/evaluasi.



1. Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/penyembuhan.
2. Mencegah gerakan yang tidak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang kering.
3. Traksi memungkinkan penarikan pada aksi panjang fraktur tulang dan mengatasi tegangan otot/pemendekan untuk memudahkan posisi/penyatuan.
4. Jumlah beban traksi optimal dipertahankan catatan : memastikan gerakan bebas beban selama mengganti posisi pasien menghindar penarikan berlebihan tiba-tiba pada fraktur yang menimbulkan nyeri dan spasme otot.
5.
Memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuik menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan teraphy
5 Resiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan trombus; hipovolemia kemungkinan dibuktikan dengan : (tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat dioagnosa aktual) Hasil yang diharapkan/kriteria Evaluasi : Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat/kering, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil dan haluarin urine adekuat untuk situasi individu.



1. Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi/doppler. Bandingkan dengan ekstremitas yang sakit.
2. Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur.
3. Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan fungsi motor/sensori. Minta pasien untuk melokalisasi nyeri/ketidak nyamanan.
4. Selidiki tanda ekstremitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit dan peningkatan nyeri.
5. Dorong pasien untuk secara rutin, latihan jari/sendi distal cedera, ambulasi sesegera mungkin.
6. Awasi tanda vital. Perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum, kulit dingi, peruibahan mental.
7. Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
8. Siapkan untuk intervensi bedah (contoh :
fibulektomi/ fasiotomi) sesuai indikasi.
9. Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi, contoh kadar protombin.
Sesuai



1. Penurunan/tidak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi. Selain itu,perfusi melalui arteria lebih besar dapat berlanjut setelah meningkatnya terkanan kompartemen yang telah mengempiskan sirkulasi arteroi/venula otot.
2. Kembalinya warna halus cepat (3-5 detik). Warna kulit putih menunjukan gangguan arterial. Sianosis diduga gangguan vena.
3. Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan/penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf adekuat atau saraf rusak.
4. Dislokasi fraktur sendi (khususnya lutut) dapat menyebabkan kerusakan arteri berdekatan, dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal.
5. Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnya pada ekstremitas bawah.
6. Ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi Jaringan.
7. Menurunkan edema/pembentukan hematoma, yang dapat menggangu sirkulasi.
8. Kegagalan untuk tekanan/memperbaiki sindrom kompartemen dalam 4 sampai 6 jam dari timbulnya dapat mengakibatkan kontraktur berat/kehilangan fungsi dan kecacatan ekstrenitas distal cedera atau perlu amputasi.
9. Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan keefektifan terapi penggantian.
8. Resiko terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak, perubahan mebran alveolar/kapiler interstisisal, edema paru, kongesti. Kemungkinan dibuktikan oleh : (tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tand dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual).

Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer :kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan.
Prosedur invasit, traksi tulang.
Kemungkinan dibuktikan oleh : (tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual).

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat ; salah satu interpretasi informasi/ tidak mengenal sumber informasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
1. Pernyataan atau permintaan informasi, pernyataan salah konsepsi.Tidak akurat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dijaga. Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan ressiko pertukaran gas tidak terjadi
KH :
Mempertahankan fungsi nafas adekuat, dibuktikan oleh tidak adanya dispnea/sianisis; frekwensi pernafasan dan analisa gas darah dalam batas normal.

Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan risiko infeksi tidak terjadi
KH :
1. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
2. Bebas drainase purulen atau eritema dan demam.


Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan pengetahuan klien meningkat.
KH :
1. Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan.
2. Menyatakan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan .
1. Awasi frekuensi pernafasan dan upayanya. Perhatikan stridor, pengunaan alat bantu,retraksi, terjadinya sianosis netral.
2. Auskultasi bunyi nafas terjadinya ketidaksamaan bunyi hipersonan, juga adanya gemericik/ronchi/mengidan inspirasi mengorok/bunyi nafas sesak.

3. Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk. Reposisi dengan sering.


4. Inspeksikan kulit untuk petekie di atas garis patah; pada aksila; meluas ke abdomen/tubuh; mukosa mulut, platinum keras, kantung konjungtiva dan retina.
Kolaborasi
5. Bantu dalam spirometri intensif.
6. Berikan tambahan O2 bila ada indikasi.
7. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh analisa gas darah.
8. Berikan obat sesuai indikasi, kortikosteroid.



1. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontunuitas.
2. Kaji sisi pen atau kulit perhatikan peningkatan nyeri/ rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/ bau tidak enak.
3. Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak atau asam.
4. Kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemungkinan untuk berbicara.
5. Selidiki nyeri tiba-tiba/ keterbatasan gerakan dengan edema lokal/ eritema ekstremitas cedera.
Kolaborasi
6. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh LED kultum dan sensitivitas luka/ serum tulang, skan radio isotop.
7. Berikan obat sesuai indikasi, contoh : antibiotik IV/ topikal.
8. Berikan irigasi luka/ tulang dan berikan sabun basah/ hangat sesuai indikasi.



1. Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang akan datang.
2. Berikan penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.
3. Buat daftar aktifitas dimana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memerlukan batuan.
4. Indentifikasi terjadi sumber pelayanan dimasyarakat, contoh tim rehabilitasi, pelayanan dirumah.
5. Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi diatas dan dibawah faktur.
6. Kaji ulang keperawatan pen/ luka yang tepat.
7. Anjurkan cara-cara untuk menutupi ibu jari kaki, bila tepat, contoh : sarung tangan atau kaus kaki halus.
8. Diskusikan instruksi pasca pengangkatan gips informasikan pasien bahwa otot dapat lembek dan atropi (massa otot kurang)



1. Takypnea, dispenea dan perubahan dalam mental dan tanda dini insufisiensi pernafasan yang mungkin hanya indikator terjadinya emboli paru pada tahap awal. Masih adanya tanda atau gejala menunjukkan distress pernafasan luas atau cendrung kegagalan.
2. Perubahan dalam atau adanya bunyi adventusius menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan, contoh atelektasis, pneumonia. Inspirasi mengorok menunjukkan edema jalan nafas atas dan diduga emboli lemak.
3. Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfungsi. Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti pada area paru dependen.
4. Ini adalah karakteristik paling nyata dari tanda emboli lemak, yang tampak dalam 2-3 hari setelah cedera.
5. Memaksimalkan ventilasi atau oksigenisasi dan meminimalkan atelektasi.
6. Meningkatkan sediaan O2 oksigenisasi optimal jaringan.
7. Menurunkan PaO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas atau terjadinya kegagalan.
8. Steroid telah digunakan dengan beberapa keberhasilan untuk mencegah atau mengatasi emboli lemak.


1. Pen atau kawat tidak perlu dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan, atau abrasi (dapat menimbulkan infeksi tulang)
2. Dapat mengidentifikasi timbulnya infeksi lokal/ nekrosis jaringan yang dapat menimbulkan osteomielitis.
3. Tanda perkiraan infeksi ganggren.
4. Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, dan divagina menunjukkan terjadinya tetanus.
5. Dapat mengidentifikasi terjadinya osteomielitis.
6. Mengidentifikasi organisme infeksi. Titik panas menunjukkan peningkatan area vaskularitas, menunjukkan osteomieliti
7. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditunjukkan pada mikroorganisme khusus.
8. Debridemen lokal atau tulang pembersih luka menurunkan mikroorganisme dan insiden injeksi. Anti mikrobia drip kontinu kedalam tulang diperlukan untuk mengatasi osteomielitis, khususnya bila suplai darah ketulang terganggu.



1. Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi catatan : fiksasi internal dapat mempengaruhi kekuatan tulang dan intra medula, kuku/ akar atau piringa mungkin diangkat beberapa hari kemudian.
2. Banyak fraktur memerlukan gips, bebat, atau penjepit selama proses penyembuhan. Kerusakan lanjut dan perlambatan penyembuhan dapat terjadi sekunder terhadap ketidak tepatan penggunaan alat ambulasi.
3. Penyusunan aktifitas sekitar kebutuhan dan yang memerlukan bantuan.
4. Memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan diri dan mendukung kemandirian. Meningkatkan perawatan diri optimal dan pemulihan.
5. Mencegah kekakuan sendi, kontraktur, dan kelelahan otot, meningkatkan kembali aktivitas sehari-hari secara dini.
6. Menurunkan resiko trauma tulang atau jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut menjadi osteomielitas.
7. Membatu mempertahankan kehangatan atau melindungi dari cedera.
8. Kekuatan otot akan menurun dan rasa sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap kehilangan dukungan.

3. Pelaksanaan
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang sfesifik yang dimulai setelah rencana tindakan tersusun untuk memebantu klien mencapai tujuan yang ditetapkan mencakup peningkatan kesehatan ,pencegahan penyakit,pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa tindakan keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai atau tidak. Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada setiap proses keperawatan. Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik, sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar